Festival Budaya Rote Malole, Bupati: Rote Ndao Rumah bagi Berbagai Budaya dan Etnis

Reporter: Tim 
| Editor: Redaksi
IMG 20260819 WA0011IMG 20260819 WA0011

Rote Ndao, PENA-EMAS.COM – Festival Budaya Rote Malole Kabupaten Rote Ndao Tahun 2026 resmi dibuka oleh Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, SH, Selasa (18/8/2026), di Lapangan Christian Nehemia Dillak, Ba’a, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Festival tersebut menampilkan beragam pertunjukan seni dan budaya, mulai dari tarian tradisional, musik tradisional hingga berbagai atraksi budaya yang dibawakan oleh sanggar, paguyuban, dan komunitas budaya.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan laporan panitia, Festival Budaya Rote Malole digelar sebagai wadah pelestarian, pengembangan, sekaligus promosi kebudayaan Kabupaten Rote Ndao.
Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan keberagaman budaya serta memperkuat interaksi, persaudaraan, dan persatuan masyarakat lintas etnis di Kabupaten Rote Ndao.

Festival tersebut tidak hanya menampilkan budaya masyarakat Rote, tetapi juga melibatkan sejumlah paguyuban masyarakat dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur yang berdomisili di Rote Ndao, di antaranya Paguyuban Helong, Alor, dan Sumba.

Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, SH, dalam sambutannya mengatakan Festival Budaya Rote Malole merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Rote Ndao dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah.

Menurut Paulus, budaya, tradisi, serta tarian yang diwariskan secara turun-temurun merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Rote Ndao.

“Festival Budaya Rote Malole ini juga menjadi cerminan bahwa Kabupaten Rote Ndao merupakan rumah bagi berbagai budaya dan etnis,” ujar Paulus.

Ia mengatakan pelestarian budaya tidak hanya penting untuk menjaga identitas daerah, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM.

Pelaksanaan festival tersebut, kata Paulus, sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, yakni “Transformasi Rote Ndao dalam Bingkai Ita Esa”, yang dijabarkan melalui sembilan agenda perubahan atau “Mbule Sio”.

Beberapa di antaranya adalah Mbule Ha (Rote Ndao Sejahtera), Mbule Falu (Rote Ndao Malole), Mbule Ne (Rote Ndao Berdaya), dan Mbule Sio (Rote Ndao Harmoni).

“Pelestarian budaya diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan mendorong perputaran ekonomi di daerah,” kata Paulus.

Ia berharap Festival Budaya Rote Malole tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat terus dikembangkan sebagai ruang pelestarian budaya, penguatan persaudaraan, serta promosi potensi daerah.

Menurutnya, kekayaan budaya merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, pelestarian budaya tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda.

Festival budaya, lanjut Paulus, juga dapat menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan mempertahankan identitas budaya daerah.

“Pentingnya menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari identitas masyarakat Rote Ndao,” ujarnya.

Ia menambahkan, perkembangan budaya harus dapat mengikuti kreativitas generasi muda tanpa kehilangan nilai-nilai dan jati diri yang menjadi akar budaya masyarakat Rote Ndao.

Selain sebagai sarana pelestarian warisan leluhur, Festival Budaya Rote Malole dinilai memiliki nilai strategis bagi pembangunan daerah karena dapat menjadi media promosi pariwisata sekaligus membuka peluang bagi pengembangan ekonomi kreatif dan UMKM.

Paulus juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia dan Bank NTT atas dukungan terhadap penyelenggaraan Festival Budaya Rote Malole Tahun 2026.
Menurutnya, dukungan tersebut merupakan bentuk sinergi dalam mendorong pelestarian budaya, pengembangan ekonomi kreatif, serta penguatan potensi daerah.

Prosesi pembukaan Festival Budaya Rote Malole ditandai dengan pemukulan gong. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan Bank Indonesia didaulat melakukan pemukulan gong sebagai tanda dimulainya rangkaian festival.

Hadir dalam pembukaan Festival Budaya Rote Malole tersebut Wakil Bupati Rote Ndao, unsur Forkopimda, pimpinan OPD, serta sejumlah undangan lainnya.

Festival Budaya Rote Malole Tahun 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal sekaligus menunjukkan bahwa keberagaman budaya dan etnis merupakan kekuatan yang dapat mempererat persaudaraan di Kabupaten Rote Ndao.

Pos terkait