Bangunan Miliaran Rupiah di Rote Ndao Kini Jadi “Rumah Hantu”, Rakyat Dirugikan!

Reporter: Ariyanto Tulle  
| Editor: Redaksi
IMG 20260510 WA0008IMG 20260510 WA0008

Rote Ndao, PENA-EMAS.COM— Ironi pembangunan kembali terjadi di Kabupaten Rote Ndao. Sebuah proyek Pasar Rakyat Moal yang dibangun menggunakan anggaran miliaran rupiah dari program pengembangan desa tertinggal milik Kementerian Desa Republik Indonesia kini terbengkalai tanpa manfaat dan berubah menjadi kandang ternak serta semak belukar.

Bangunan megah yang berdiri di Dusun Lolosis, Desa Modosinal, Kecamatan Rote Barat Laut itu kini hanya menyisakan cerita kegagalan perencanaan pemerintah. Bangunan kini Jadi “Rumah Hantu”, Rakyat Dirugikan!

Bacaan Lainnya

Proyek yang dibangun sejak tahun 2019 tersebut diduga hanya sukses pada penyerapan anggaran, namun gagal total dalam memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi pasar sangat memprihatinkan. Atap bangunan mulai rusak, area dipenuhi kotoran hewan, sementara dua bangunan pendukung lainnya nyaris hancur tanpa perawatan. Masyarakat pun mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam merencanakan pembangunan yang menggunakan uang rakyat.

“Bagaimana mungkin bangunan miliaran rupiah dibiarkan membusuk tanpa fungsi? Ini sangat miris,” keluh sejumlah warga.

Anggota DPRD Rote Ndao dari Partai Kebangkitan Bangsa, Efendi Hartoyo Muda, membenarkan bahwa pasar tersebut dibangun melalui program kementerian saat dirinya masih menjabat Kepala Desa Modosinal.

Menurut Efendi, pasar sempat digunakan masyarakat untuk aktivitas jual beli hasil pertanian dan hortikultura. Namun aktivitas itu hanya bertahan beberapa bulan sebelum akhirnya mati total, terutama setelah pandemi COVID-19 melanda pada tahun 2020.

Meski demikian, Efendi menilai pembiaran yang terjadi saat ini tidak bisa terus dibiarkan. Ia mendesak Dinas Koperasi UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rote Ndao segera turun tangan melakukan kajian serius agar bangunan tersebut tidak berubah menjadi monumen kegagalan pembangunan.

“Kalau tidak segera dimanfaatkan, bangunan ini akan rusak total. Sangat aneh kalau pemerintah membangun tapi tidak memastikan manfaatnya bagi rakyat,” tegas Efendi.

Ia bahkan mengusulkan Pasar Moal dijadikan pasar transit pada hari Selasa dan Jumat agar petani dari Kecamatan Rote Barat Laut dan Loaholu bisa menjual hasil pertanian mereka tanpa harus menunggu jadwal Pasar Inpres Busalangga.

“Jangan hanya bangun lalu ditinggalkan. Rakyat butuh pasar yang hidup, bukan gedung kosong penuh ternak,” tambahnya.

Kasus Pasar Moal dinilai menjadi contoh nyata buruknya perencanaan pembangunan di daerah. Banyak proyek fisik dibangun menggunakan APBD maupun APBN, tetapi akhirnya mubazir karena tidak pernah dimanfaatkan secara maksimal.

Publik kini menunggu sikap tegas Pemerintah Kabupaten Rote Ndao untuk menyelamatkan aset negara yang terancam rusak total akibat pembiaran bertahun-tahun.

Pos terkait