Festival Hus Nde’o,  “ Kukuafu Bula Dalan “  Atraksi Budaya Leluhur sebelum Abad ke-17

Reporter: Tim 
| Editor: Redaksi
IMG 20260710 WA0005IMG 20260710 WA0005

Rote Ndao, PENA-EMAS.COM– Festival Hus Nde’o merupakan momentum atraksi budaya bersejarah peninggalan leluhur tahun 2026, Festival Budaya Hus Nde’o di buka oleh Bupati Rote Ndao. Kamis (9/7/2026) di Desa Tasilo Kecamatan Loaholu Kabupaten Rote Ndao Propinsi Nusa Tenggara Timur

Rombongan Bupati Rote Ndao Paulus Henuk,SH bersama Wakil Bupati Apremoi Dudelusi Dethan, Wakil Ketua DPRD Kab. Rote Ndao Denison Moy,ST, Kapolres Rote Ndao, Perwakilan Kodim1627, Lanal Pulau Rote, Kejaksaan Negeri Rote Ndao, Pengadilan Negeri Rote Ndao, Kepal Bank NTT, Kepala BNN Rote Ndao, para Asisten dan rombongan Pasukan Parade berkuda disambut secara adat di Lokasi Hus Nde’o sebelum memasuki arena ritual Budaya Hus Nde’o oleh Tokoh Adat, Maneleo ke 9 Suku di Nusak Lailete, Camat dan para Kepala Desa se Kecamatan Loaholu.

Bacaan Lainnya

Kegiatan diawali dengan laporan oleh Panitia yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Rote Ndao Regina Asnat Valeryn Kedoh,S,STP,M.Si, tuturan Sejarah asal usul Hus Nde’o oleh Tokoh Adat Maneleo suku Luna Vando Arkhimes Molle,SH,MA kemudian dilanjutkan dengan sambutan Bupati Rote Rote Ndao.

Dalam sambutan Bupati Rote Ndao yang disampaikan oleh Wakil Bupati Rote Ndao Apremoi Dudelusi Dethan, mengatakan, Moment atraksi budaya yang merupakan salah satu cara kita menjaga dan melestarikan kekayaan budaya dan adat istiadat yang dapat dijadikan sebagai daya Tarik pariwisata di daerah

Kegiatan Festival Hus Nde’o tidak hanya menampilkan ketangkasan berkuda tetapi juga menjadi simbol persatuan, sportivitas dan identitas budaya Masyarakat Rote Ndao. Kegiatan Hus Nde;o merupakan parade budaya kuda hias yang menjadi satu tradisi yang sangat kaya akan nilai nilai budaya yang dipadu dengan atraksi budaya Li’butu atau Silat kampung, Kebalai dan acara budaya lainnya.

Selain itu, kegiatan Hus Nde’o merupakan wujud penghormatan kita yang telah membentuk identitas kita dan sekarang sudah turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi melalui pameran produk local, ekonomi kreatif dan kegiatan UMKM.

Kegiatan Hus Nde’o merupakan bentuk ungkapan suka cita Masyarakat pasca panen hasil pertanian maka pelaksanaan kegiatan ini menjadi momentum membangkitkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dan tradisi leluhur sekaligus menggenerasikan nilai nilai kebersamaan , semangat gotong royong dan cinta akan warisan budaya agar dapat terus hidup dan berkembang karena itu marilah kita Bersama sama menjaga dan meneruskan nilai nila budaya kepada generasi mendatang. Ajaknya.

Festival Hus Nde’o selaras dengan Visi Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, Yaitu Transformasi Rote Ndao dalam bingkai Ita Esa yang diimplementasikan dalam Sembilan agenda perubahan Mbule sio sehingga Hus Nde’o bukan sebuah saja sebagai tradisi tetapi menjadi asset budaya yang menjadi penggerak ekonomi, pariwisata yang membanggakan daerah menuju Rote Ndao yang semakin maju dan berdaya saing.

Karenanya, Arena Hus Nde’o setelah melalui berbagai proses telah ditetapkan sebagai situs Cagar Budaya pada tahun 2026 untuk Festival Hus Nde’o akan menjadi agenda rutin yang diselenggarakan pada tanggal 9 Juli setiap tahun.

Sementara Tokoh Adat Arkhimes Molle dalam sambutan penuturan Sejarah asal usul Hus Nde’o menyampaikan bahwa, Sejarah asal usul Ritual Hus Nde’o merupakan peninggalan leluhur Masyarakat adat Nusak Lailete sejak masa leluhur Dengga Manunggai dan Vando Bolo Kue dan anaknya Tema Dengga dan Tetu Vando.

Menurut Arkhimes Molle. berdasarkan tuturan dan Sejarah lisan leluhur, Hus Nde’o dengan Nama asli “Kukuafu Bula Dalan” di Kampung Nde’o Desa Tasilo sudah ada sebelum abad ke- 17 yang diperkirakan sejak tahun 1.500. Ia juga menjelaskan, asal-usul Hus Nde’o memiliki esensinya dengan Kerajaan Lailete dan Kerajaan Dengka sebagai landasan sejarah untuk memahami keberadaan Ritual Adat Hus Nde’o, maka Hus Nde’o tidak hanya berfungsi sebagai pengantar sejarah kerajaan, tetapi juga menjadi dasar kronologis yang menunjukkan bahwa ritual adat Hus Nde’o lebih tua dari penyatuan Kerajaan Lailete dan Dengka.

Berdasarkan penuturan para tetua adat, silsilah leluhur, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, Ritual Adat Hus Nde’o telah dikenal dan dilaksanakan sebelum tahun 1662, yaitu pada masa ketika Kerajaan Lailete dan Kerajaan Dengka masih berdiri sebagai dua kerajaan yang terpisah. Hal ini menunjukkan bahwa Hus Nde’o merupakan warisan leluhur yang telah hidup dan dipelihara sebelum penyatuan kedua kerajaan tersebut.

Keberadaan Ritual Adat Hus Nde’o tidak dapat dilepaskan dari sejarah awal Nusak Lailete. Berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan oleh para leluhur, Hus Nde’o telah dilaksanakan jauh sebelum tahun 1662. Hal ini menunjukkan bahwa ritual tersebut bukan merupakan produk pemerintahan kerajaan setelah masa penyatuan, melainkan warisan adat yang telah hidup sejak masa awal leluhur Lailete.

Dalam konteks sejarah tersebut, Ritual Adat Hus Nde’o memiliki kedudukan yang berbeda. Ritual ini merupakan warisan adat yang telah hidup di tengah masyarakat Nusak Lailete jauh sebelum lahirnya kontrak-kontrak politik dengan VOC maupun penetapan batas-batas wilayah oleh pemerintah kolonial.

Dengan demikian, sejarah politik kerajaan dan sejarah budaya Hus Nde’o merupakan dua perkembangan yang saling berkaitan, tetapi memiliki titik awal yang berbeda.

Memasuki abad ke-17, kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) membawa perubahan besar dalam kehidupan politik dan ekonomi di Pulau Rote. Berbagai perjanjian antara VOC dan para raja di Rote, termasuk perjanjian tanggal 27 Juli 1662, menjadi bukti tertulis mengenai hubungan tersebut. Dokumen-dokumen itu memperlihatkan bagaimana para penguasa lokal berusaha menjaga kepentingan kerajaannya di tengah semakin kuatnya pengaruh bangsa Eropa.

Di balik catatan sejarah resmi itu, Jelas Arkhimes Molle, masyarakat Rote juga mewariskan kisah-kisah yang hidup dalam ingatan kolektif melalui tradisi lisan. Salah satu kisah yang memiliki nilai sejarah dan budaya adalah kisah Hus Nde’o. Hus Nde’o tidak hanya dikenal dalam cerita rakyat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan memori masyarakat.

Untuk itu, memperkenalkan kembali sejarah Hus Nde’o dengan memadukan berbagai sumber, baik tradisi lisan maupun dokumen sejarah yang masih tersedia. Dengan demikian, diharapkan latar belakang sejarah, kehidupan masyarakat, serta makna kisah Hus Nde’o menjadi asset peninggalan leluhur selain di teruskan bagi generasi masa kini tetapi juga dikembangkan untuk berkonstribusi bagi kemajuan kedepan.

“ Kita berharap asset peninggalan leluhur ini menjadi perhatian pemerintah daerah untuk pelestariannya dan menjaga nilai budaya leluhur ini untuk membawa dampak ekonomis bagi kemajuan daerah “ Tutupnya.

Ikut serta Atraksi budaya Hus Ndeo secara langsung untuk parade Hus alias “Foti kuda” dimeriahkan oleh Bupati Paulus Henuk,SH, Kapolres Rote Ndao, Wakil Ketua DPRD, Kepala BNN, Dirut Bank NTT Cabang Rote Ndao dan Forkopimda lainnya.

Untuk atraksi Li’butu alias silat kampung. Kapolres Rote Ndao AKBP Mardiono turun arena langsung berhadapan dengan seorang anggota Polres.atraksi ini mendapat respon meriah dari dari Bupati dan ribuan warga yang memadati arena Li’butu.

Kegiatan lain dalam festival Hus Nde’o tahun 2026 diantaranya pelayanan Kesehatan gratis, pembagian bibit dari Dinas Pertanian, penyerahan sembako, lomba lari tel kuda hias dan kegiatan UMKUM.

Selain itu, Bupati, Wakil Bupati Bersama Forkopimda dan ribuan warga ikut dalam atraksi kebalai massal bersama sebagai wujud suka cita bersama masyarakat adat Fertival Budaya Hus Nde’o.

Acara parade atau Foti Hus dan Li’butu berakhir pada sore hari sedangkan Kebalai dilanjutkan hingga pukul 03 : 00 dini hari.

Kegiatan lain dalam festival Hus Nde’o tahun 2026 diantaranya pelayanan Kesehatan gratis, pembagian bibit dari Dinas Pertanian, penyerahan sembako, lomba lari tel kuda hias dan kegiatan UMKUM.

Kegiatan Festival Hus Nde’o diperkirakan dihadiri oleh para Wisatawan dan Masyarakat yang datang dari seanteru wilayah Kabupaten Rote Ndao lebih dari lima ribuan orang dan penunggang kuda diatas tiga ratusan.

Hadir dalam acara Festival Hus Nde’o, Forkopimda Kabupaten Rote Ndao, para Asisten dan perangkat daerah, pimpinan instansi vertical dan kepala BUMN dan BUMD wilayah kabupaten Rote Ndao, Camat, Kepala Desa dan perangkat se- Kabupaten Rote Ndao, Tokoh Masyarakat, Para Maneleo, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Para Wisatawan dan Insan Pers dari berbagai Media

Pos terkait