Morids Bulan: Tiga agenda utama dalam pelaksanaan program Rote Mengajar

Reporter: Ariyanto Tulle  
| Editor: Redaksi
IMG 20260824 WA0012IMG 20260824 WA0012

Rote Ndao, PENA-EMAS.COM– Tiga agenda utama dalam pelaksanaan program Rote Mengajar diantaranya Kelas Inspirasi yang ditujukan kepada para siswa, Kelas Pelatih yang diperuntukkan bagi orang tua siswa dan Talkshow Wawasan Kebangsaan yang melibatkan relawan dan masyarakat umum.

Demikian hal ini disampaikan Morids D.E. Bulan, S.Pd., M.Si., saat menghadiri langsung kegiatan Rote Mengajar di SDN Ndudale sebagai sakah satu sekolah sasaran Program Rote Mengajar.

Bacaan Lainnya

Morids D.E. Bulan menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao melalui Dinas Pendidikan memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program Rote Mengajar yang kembali digelar di Kabupaten Rote Ndao.

Program yang berlangsung mulai, 23–25 Agustus 2026, tersebut dinilai menjadi salah satu sarana penting untuk membuka wawasan peserta didik, khususnya dalam mengenal berbagai profesi, menggali potensi diri, serta membangun keberanian untuk merancang masa depan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rote Ndao, Morids D.E. Bulan, S.Pd., M.Si., mengatakan Rote Mengajar sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memberikan motivasi dan inspirasi kepada anak-anak di daerah.

Menurut Morids, salah satu persoalan yang masih dihadapi anak-anak di daerah adalah keterbatasan informasi mengenai pilihan profesi dan peluang pendidikan. Kondisi tersebut membuat sebagian anak hanya mengenal profesi yang sering mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.

“Banyak informasi tentang profesi yang sebenarnya anak-anak kita bisa masuk. Tetapi karena informasi itu tidak sampai kepada masyarakat dan anak-anak, akibatnya profesi yang dipilih itu-itu saja,” ujar Morids.

Ia mencontohkan profesi pilot yang terkadang masih dianggap sebagai pekerjaan yang terlalu tinggi dan sulit dijangkau oleh anak-anak dari desa.
Padahal, kata Morids, dengan informasi, motivasi, dan pendampingan yang tepat, anak-anak Rote Ndao juga memiliki kesempatan untuk menggapai cita-cita tersebut.

“Misalnya pilot. Kita membayangkan bahwa itu profesi yang terlalu tinggi, anak-anak kita dari desa tidak bisa masuk. Padahal mestinya bisa. Tetapi informasi tentang bagaimana menjadi pilot dan sejenisnya tidak ada, sehingga peluang itu tertutup,” katanya.

Karena itu, Dinas Pendidikan menyatakan siap mendukung dan memfasilitasi pelaksanaan Rote Mengajar, termasuk memastikan sekolah-sekolah sasaran dapat menerima dan memberikan ruang yang baik bagi para relawan.

“Ini kita dukung dan kita back up. Termasuk sekolah-sekolah kita fasilitasi agar menerima relawan dengan baik. Sekalian ini menjadi bagian dari promosi,” ungkap Morids.

Selain memberikan manfaat bagi peserta didik, ia menilai kehadiran para relawan juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi Kabupaten Rote Ndao kepada masyarakat luas, baik potensi pendidikan, budaya, maupun destinasi wisata.

Rote Mengajar tahun 2026 menyasar berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP hingga SMA, dengan jumlah sekolah yang terlibat mencapai 34 sekolah.

Morids menjelaskan, terdapat tiga agenda utama dalam pelaksanaan program tersebut. Pertama, Kelas Inspirasi yang ditujukan kepada para siswa. Kedua, Kelas Pelatih yang diperuntukkan bagi orang tua siswa. Ketiga, Talkshow Wawasan Kebangsaan yang melibatkan relawan dan masyarakat umum.

Selanjutnya, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam program tersebut karena proses pendidikan dan pembentukan cita-cita anak tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga di dalam keluarga.

“Anak-anak bukan hanya mendapatkan inspirasi dari sekolah, tetapi orang tua juga perlu mengetahui dan memahami bagaimana mendukung cita-cita anak-anak mereka,” jelasnya.
Program Rote Mengajar juga terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk bergabung sebagai relawan. Tidak terdapat pembatasan berdasarkan pendidikan maupun profesi tertentu.

“Tidak ada pembatasan. Link-nya dibuka untuk umum, siapa saja boleh mendaftar,” katanya.

Morids berharap Rote Mengajar tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dapat terus dilaksanakan dan menjadi program tahunan di Kabupaten Rote Ndao.
Ia menjelaskan, program serupa sebenarnya pernah dilaksanakan pada 2015. Namun, kegiatan tersebut sempat terhenti dan kini kembali dihidupkan.

“Kita berharap ini lanjut terus dengan program tahunan. Ini sebenarnya bukan program baru, karena tahun 2015 pernah dilaksanakan. Kemudian terputus dan sekarang dibuka kembali,” jelasnya.

Ia berharap Rote Mengajar ke depan memiliki cakupan yang semakin luas, sehingga lebih banyak relawan maupun masyarakat yang tertarik memberikan kontribusi bagi pendidikan anak-anak Rote Ndao.

“Kadang-kadang salah satu kebijakan pemerintah gagal gaungnya karena tidak ada. Kita sudah berdarah-darah, tetapi masyarakat tidak tahu bahwa kita sedang berdarah-darah,” ungkapnya.

Dengan dukungan pemerintah daerah, sekolah, relawan, orang tua, dan masyarakat, Rote Mengajar diharapkan mampu membuka wawasan generasi muda Rote Ndao, menumbuhkan keberanian untuk bermimpi, serta memperkenalkan lebih banyak pilihan pendidikan dan profesi yang dapat mereka raih di masa depan.

Pos terkait