Rote Ndao, PENA-EMAS.COM- Dugaan Permintaan sejumlah Uang dari Kepala Sekolah penerima dana Revitalisasi Bidang Pendidikan Tahun 2026 tersorot ke permukaan setelah sejumlah Kepala Sekolah yang menolak aksi oknum pejabat yang berlaku sebagai Boker Proyek.
Terbongkarnya dugaan permintaan uang berbau korupsi ini, di sampaikan Oleh 4 Kepala Sekolah baik SD/SMP dari 17 Sekolah Penerima yang meminta identitasnya tidak dipublish ketika menghubungi media lewat telepon seluler belum lama ini.
Kepada Media diakui oleh ke-4 Kepala Sekolah kalau dua oknum pejabat pada dinas Pendidikan yang di anggap Broker Proyek revitalisasi. Kedua oknum tersebut berinisial SD yang bertugas di bidang sarpras dan EM yang dulu di sarpras dan sekarang di seksi Kurikulum,
Kedua Oknum pejabat ini yang melakukan gerilya meminta sejumlah uang dari Kepsek penerima Revitalisasi. Jelasnya.
Para Kepala Sekolah mengakui kalau pihaknya mendapat presur dari SD dan EM dengan modus bahwa sekolah dapat bantuan dana Revitalisasi karena perjuangan dari mereka atau pejabat Broker.
Jika tidak menyetor sejumlah uang maka akan di persulit dalam pencairan, dan pelaporan terkait dana dan bahkan untuk PKS dengan Kementrian akan di batalkan.
Selain itu, untuk pengadaan bahan bangunan/material di arahkan untuk di berikan kepada pihak tertentu termasuk ada intervensi saat pembentukan panitia untuk melaksanakan kegiatan fisik dimaksud ikut ditentukan oleh kedua broker.
Selain permintaan sejumlah uang untuk jatah Revitalisasi, turut terbongkar pula permintaan uang saat pelaksanaan program Rote Mengajar yang di gagas Bupati Rote Ndao.Mereka juga mengakui kalau ternyata pelaksanaan program Rote Mengajar di biayai dan di pungut dari sekolah penerima dana revitalisasi dengan pungutan 5 juta hingga 10 juta setiap sekolah, total dana yang berhasil dipungut sebesar Rp100 juta. Ungkap mereka.
Kadis Pendidikan Kabupaten Rote Ndao Moris D. E. Bulan, S.Pd., M.Si. ketika di konfirmasi di ruangan kerjanya belum lama ini, dengan tegas membantah ada pungutun oleh Dinas Pendidikan.
“ Kedua oknum yang diduga jadi broker yang aktif meminta sejumlah uang, saya tidak tahu. Kalau oknum SD dan EM, saya tidak mengetahui, tapi nanti saya akan cek kebenarannya” Kata kadis.
Selanjutnya dengan nada tegas Kadis meminta agar semua proyek di Dinas Pendidikan agar media silakan kawal, jika ada oknum yang bermain silakan lapor, apalagi dana revitalisasi kewenangan di Kepala sekolah masing masing penerima.
Sementara terkait Permintaan untuk Program Bupati Rote Mengajar, hanya di minta dukungan terkait pembelian snack/minum saat kegiatan berlangsung di masing masing sekolah, jelasnya.
SD, Salah satu pejabat yang di sebut jadi broker proyek di dinas Pendidikan ketika di konfirmasi lewat pesan whatsapp tidak merespon walaupun terlihat membaca.
Untuk diketahui, 17 sekolah penerima dana Revitalisasi di antaranya : SD GMIT Oebela, UPTD SD Inpres Oehu, UPTD SD Negeri Longgo Koli, UPTD SDN Deaoen SD GMIT Netenaen, UPTD SD Negeri Mbadokai, UPTD SD Inpres Mbiu, UPTD SD Negeri Holomanu, UPTD SD Negeri Sotimori, UPTD SD Negeri Nduadi, SD GMIT OekupiUPTD SDN Ndau, UPTD SD Negeri Lekik, SD GMIT Ingguinak, UPTD SD Inpres Tolama, UPTD SDN Oeno, UPTD SD Negeri Oly, UPTD SMP Negeri 1 Landu Leko, UPTD SD-SMP Negeri Satu Atap Batulai ,SMPN 3 Rote Timur
Revitalisasi sekolah adalah program strategis pemerintah untuk memperbaiki, membangun, dan melengkapi sarana serta prasarana satuan pendidikan agar tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berkualitas.
Memastikan setiap anak di berbagai wilayah mendapatkan akses dan kesempatan belajar di lingkungan yang ideal.
Menciptakan ruang dan ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap kebutuhan siswa dan guru.
Pelaksanaan Swakelola Mandiri yakni Dana bantuan ditransfer langsung ke rekening sekolah dan dikelola secara mandiri oleh pihak sekolah.
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




