Tokoh Adat dan Budayawan Minta Pemerintah, Musik Sasando masuk Festival Lomba

Reporter: *)tim 
| Editor: Redaksi
IMG 20260807 WA0014

Rote Ndao, PENA-EMAS.COM – Lima orang tokoh adat dan budayawan yang tergabung dalam tim Juri Lomba Festival Tunas Bahasa Ibu ( FTBI ) Bahasa Rote meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Rote Ndao agar Musik Sasando dan Musik Gong menjadi mata lomba wajib pada setiap kegiatan – kegiatan lomba yang digelar pemerintah. Baik dalam rangka memeriahkan HUT – RI maupun HUT Kabupaten Rote Ndao.

“ Musik Sasando dan Gong seharusnya tidak dilupakan tetapi menjadi wajib masuk dalam Lomba Festival yang diselenggarakan pemerintah “ Kata mereka saat teknikal meeting lomba FTBI – Bahasa Rote di Gereja Efata Lekioen belum lama ini.

Bacaan Lainnya

Kelima Tokoh Adat dan Budayawan tersebut adalah : Leksi S Y Ingguoe, S.Pd, Esau Nalle,S.Pd, Micron M. Polly, S.IP, Eduard Pelondou,SH dan Arkhimes Molle,SH,MA.

IMG 20260807 WA0012
Foto: Esau Nalle,S.Pd

Esau Nalle,S.Pd, Guru musik Sasando memiliki pengaruh dan eksistensi yang cukup kuat di mata dunia, terutama sebagai simbol budaya Pulau Rote dan Nusa Tenggara Timur.
Sasando bukan sekadar alat musik tradisional masyarakat Rote. Di balik bentuknya yang sederhana, terbuat dari bambu dan daun lontar, tersimpan identitas, pengetahuan, kreativitas, serta pandangan hidup masyarakat Pulau Rote yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena keunikannya, Sasando kemudian berkembang menjadi salah satu simbol kebudayaan Nusa Tenggara Timur yang dikenal hingga ke berbagai daerah di Indonesia dan mulai memperoleh perhatian di tingkat internasional.

Di tingkat nasional, Sasando telah menjadi salah satu ikon budaya Nusa Tenggara Timur. Kehadirannya tidak hanya dalam upacara adat dan pertunjukan budaya, tetapi juga dalam konser, festival, kegiatan pariwisata, pendidikan, serta berbagai pertunjukan musik modern. Jelas Esau Nalle.

Esau Nalle yang sudah sekian kalinya tampil di momentum nasional maupun internasional termasuk sejumlah piala dan piagam ditingkat Nasional telah diraihnya. Semua ini karena music sasando. Ungkapnya.

Menurut Esau, Pengaruh Sasando di dunia internasional terutama terlihat melalui pertunjukan seniman Sasando dalam berbagai kegiatan budaya dan promosi Indonesia. Pemerintah Indonesia melalui Indonesia Travel juga menyebut Sasando sebagai alat musik yang telah dikenal bukan hanya di Indonesia tetapi juga di panggung internasional.

Melalui lomba dan belajar musik sasando mendorong generasi muda mencintai dan mampu mempertahankan music Sasando. Di sinilah pentingnya music Sasando bagi generasi muda Rote Ndao . Mereka bukan hanya penerus pemain Sasando, tetapi juga penjaga pengetahuan dan identitas budaya.

Jika Sasando hanya dipertahankan sebagai benda pajangan, eksistensinya akan semakin melemah. Sebaliknya, apabila Sasando terus dimainkan, diajarkan, diteliti, didokumentasikan, dikembangkan dan diperkenalkan ke dunia, maka warisan leluhur tersebut akan tetap hidup. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah untuk Musik Sasando menjadi wajib masuk dalam setiap perlombaan festival seperti HUT RI dan Rote Ndao.

Sementara Arkhimes Molle,SH, MA. Mengatakan, Eksistensi Sasando di dunia memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar popularitas sebuah alat musik. Sasando menjadi media diplomasi budaya. Ketika seorang pemain memainkan Sasando di hadapan masyarakat dari negara lain, yang diperkenalkan bukan hanya sebuah bunyi musik, tetapi juga identitas masyarakat Rote, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, dan Indonesia.

Menurutnya. Dalam konteks globalisasi, keberadaan Sasando dan Gong menghadapi dua tantangan sekaligus. Pertama, bagaimana mempertahankannya, teknik permainan, nilai filosofis, dan pengetahuan tradisionalnya. Kedua, bagaimana membuat Musik Sasando dan Musik Gong tetap hidup dan diminati generasi muda tanpa kehilangan akar budayanya.

Karena itu, melalui lomba, Sasando dan Gong terus terjaga dan diminati oleh generasi muda sebagai hal penting dan utama adalah tetap terjaganya identitas dan pengetahuan tradisional yang menjadi dasar keberadaannya.

Selanjutnya. Micron M. Polly, S.IP mengatakan, Sasando juga mempunyai potensi besar sebagai kekuatan ekonomi kreatif dan pariwisata budaya. Wisatawan yang datang ke Rote tidak hanya dapat melihat keindahan alam, tetapi juga mengenal alat musik yang lahir dari kehidupan masyarakat setempat. Dengan demikian, Sasando dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sejarah, bahasa, adat, kerajinan, kehidupan masyarakat, serta filosofi orang Rote kepada dunia.

IMG 20260807 WA0015 1

Kemudian menurut penulis Sejarah adat budaya Rote, Leksi S Y Ingguoe, S.Pd, Pengaruh Sasando di mata dunia tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak orang asing mengenal namanya. Pengaruh yang paling penting adalah kemampuannya menjadi representasi identitas Rote dan Indonesia dalam pergaulan kebudayaan dunia. Jelasnya.

Sementara Eduard Pelondou,SH. Menegaskan, Sasando adalah suara dari Pulau Rote. Ketika senarnya dipetik, yang terdengar bukan hanya nada, tetapi juga cerita tentang tanah, leluhur, alam, kreativitas dan kehidupan masyarakat Rote. Oleh karena itu, menjaga eksistensi Sasando berarti menjaga salah satu suara kebudayaan Indonesia agar tetap terdengar di tengah perubahan dunia.

Karenanya, Musik Sasando seharusnya menjadi tidak terlupakan dalam setiap panggung festival lomba oleh pemerintah daerah. Tandasnya.

Pos terkait