Rote Ndao, PENA-EMAS.COM – Pelaksanaan Pameran Pembangunan dan Expo UMKM yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menuai kritik pedas dari salah satu anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao dari Partai Gelora, Capt. Mesak Bailao.
Kepada PENA-EMAS.COM – Capt. Mesak Bailao, A.Md., M.Mar. mengatakan pada prinsipnya DPRD mendukung kegiatan tersebut karena bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan.
Namun, ia menilai pelaksanaannya masih jauh dari maksimal.
Menurutnya, jika Stadion Sepak Bola Christian Nehemia Dillak terus digunakan sebagai lokasi kegiatan rutin, maka pemerintah daerah perlu memperhatikan secara menyeluruh penataan lokasi, termasuk peta penempatan stand agar terlihat rapi dan tidak terkesan amburadul. Kata Mesak, Kamis (2/4/2026) pukul 11.37 WITA di B,a.
Ia juga menyoroti minimnya fasilitas pendukung seperti toilet umum, kebersihan lingkungan, serta ketersediaan air bersih yang dinilai sangat vital.
“Hal-hal seperti ini jangan dianggap sepele. Tidak etis jika tamu dari luar daerah datang dan menemukan kondisi yang tidak layak. Ini akan mencoreng nama baik pemerintah daerah,” tegas Mesak.
Setiap kegiatan seharusnya dipersiapkan secara matang agar tidak menimbulkan kesan buruk di mata publik. “Kita buat sesuatu harus matang, jangan sampai dipermalukan orang,” ujarnya.
Ketua DPD Partai Gelora Ini juga mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penggunaan Stadion Sepak Bola Paulina Haning Bullu di Holoama sebagai lokasi alternatif kegiatan ke depan.
Menurutnya, lokasi Stadion Christian Nehemia Dillak saat ini dinilai kurang layak karena keterbatasan area parkir serta akses jalan menuju Kota Ba’a yang terganggu akibat kerusakan jalan utama menuju lokasi pameran
Ia menilai, jika kegiatan hanya terpusat di satu lokasi, maka dampak ekonomi tidak merata.
“Kalau hanya dipusatkan di situ, dampaknya hanya berputar di Kota Ba’a saja. Ini tidak adil bagi wilayah lain,” kritiknya.
Mesak menyoroti denfan tegas soal kondisi fasilitas di lokasi pameran yang dinilai memprihatinkan, seperti toilet umum yang rusak, kotor, tidak terawat, serta tidak tersedianya air bersih. Selain itu, sampah plastik juga terlihat berserakan di sekitar area kegiatan.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti menerima tamu tanpa persiapan. “Ibarat tamu mau datang ke rumah kita, tentu kita siapkan yang terbaik. Jangan sampai di luar terlihat bagus, tapi di dalam justru jorok,” sindirnya.
Selain itu, ia juga mengaku sebagai Anggota DPRD tidak menerima undangan resmi untuk menghadiri pembukaan kegiatan tersebut.
Ia bahkan mengakui, menghubungi Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Rote Ndao untuk mempertanyakan alasan tidak dilibatkannya DPRD dalam kegiatan tersebut.
Perlu di ingat bahwa Kegiatan HUT Rote Ndao Ke 24 tahun ini adalah momentum bersejarah. Termasuk mengingatkan kita bagaimana para tokoh adat, tokoh Agama, tokoh masyarakat, para Maneleo dan berbagai lini yang bergabung dalam 300 tokoh memperjuangannya menjadi daerah otonom.
Kemudian tahun ini terjadi perubahan perayaan dari sebelumnya, selama 23 tahun dirayakan pada tanggal 2 Juli dikembalikan ke kebenaran lahirnya Rote Ndao pada 10 April. Jelasnya
‘”Kita Anggota DPRD saja tidak diundang apalagi 300 tokoh yang masih hidup seharusnya wajib diundang mungkin sudah terlupakan” tutupnya bernada. Tanya.
Hingga berita ini dipublikasikan, Bupati dan Wakil Bupati Rote Ndao serta Serta Panitia penyekenggara belum berhasil dikonfirmasi terkait berbagai kritik, khususnya menyangkut kondisi fasilitas yang dinilai tidak memadai. *) Ariyanto Tulle/tim
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




