Tiga Warga Desa ingguinak menitipkan harapan ” Pemerintah hadir untuk melayani masyarakat .? “

Reporter: Ariyanto Tulle  
| Editor: Redaksi
IMG 20251223 WA0006

PENA-EMAS-COM– Pemerintah hadir untuk melayani masyarakat, baik itu Pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi hingga pemerintah Pusat. Apa ini slogan benar atau tidak.?

Pemerintah harusnya melihat kebawah, bukan ke atas tujuannya agar masyarakat yang belum terpenuhi kebutuhan papan, sandang dan pangan harus dilihat oleh pemerintah

Bacaan Lainnya

Pertanyaan penuh tanda tanya ini lebih khusus pada Kabupaten Rote Ndao yang dimekarkan dari Kabupaten Kupang, Propinsi NTT, Sudah berusia 23 Tahun namun masih sangat-sangat jauh dari perhatiannya bagi kehidupan masyarakatnya terutama dari perhatian pemerintah desa. yang tiap hari ada dekat bersama masyarakatnya,

IMG 20251223 WA0008
Foto Rumah Naomi Kotta Lansia yang hidup sebatang kara di Dusun Liuk Desa Ingguinak Rite Ndao

Betapa tidak menyedihkan Dana Desa yang setiap tahun anggaran di golontorkan dari pemerintah pusat bersumber dari APBN miliaran rupiah dan anggaran APBD selama 23 Tahun ini tak pernah menyentuh masyarakat kecil atau kaum marginal didesa Ingguinak.

Seperti halnya David Alberto Tanine, Yermi Leksi Lau dan Lansia sebatang kara Naomi Kotta, ketiganya Warga Desa Ingguinak, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, Propinsi NTT yang masih mendiami Rumah Tidak Layak Huni ( RTLH ).

Ketiga warga ini saat ditemui PENA-EMAS.COM dikediaman masing – masing di penghubung tahun 2025 mereka mengisahkan rasa harunya sebagai warga masyarakat yang mengakui sangat jauh dari perhatian pemerintah.

David Alberto Tanine, berdomisili di Rt,12 Rw 06, Dusun Liuk, Desa Ingguinak, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, Propinsi NTT, tanpa adanya perhatian dari pemerintah desa ingguinak dan Pemerintah Daerah Kabupaten Rote Ndao meskipun saat ini masih hidup jauh dari kata layak

IMG 20251223 WA0006 1
Foto: Rumah David Alberto Tonone

David Alberto Tonone, mengisahkan jalan hidupnya sudah 7 Tahun berdomisili di Dusun Liuk, bersama istri dan 2 orang anaknya. hidup di gubuk kecil, berdinding papan kayu, beratap daun lontar dan lantai tanah berukuran kecil namun tidak pernah sekali pemerintah Desa ilIngguinak datangi untuk mendata, mengusulkan melalui rumah layak huni (RLH) atau jenis bantuan fisik lainnya.

David Alberto Tonone, menuturkan kalau selama 7 tahun ini mereka sekeluarga juga masih tergantung jaringan listrik dari saudara istrinya untuk bisa mendapat penerangan guna beraktivitas di malam hari dan anak-anaknya bisa belajar.

Jelas, David Tanone, yang sehari harinya bekerja sebagai buruh batako dan petani ini, sambil berlinang air mata saat ditemui Media dikediamannya Senin (22/12/2025) Pukul 13:24 Wita

IMG 20251223 WA0007
Foto Rumah Yermi Leksi Lau

Secara terpisah Yermi Leksi Lau, warga yang sama di lingkungan Rt 12, Rw 06,.Dusun Liuk, mengakui dirinya sudah jelang 4 tahun setelah menikah dan terpaksa tinggal serumah dengan bapa dan ibu mantunya akibat belum ada biaya untuk membangun rumah sendiri tapi tidak pernah mendapat sentuhan tangan dari pemerintah setempat untuk di data.

Atas bantuan saudara dan keluarga, Leksi Lau bersama istrinya baru mendirikan pondok kecil secukup mereka bisa berteduh dari terik matahari dan hujan sekalipun masih jauh dari layak atas kekurangan dan keterbatasan yang dialaminya

Leksi Lau, Yang saat ini telah mengalami amputasi di tangan kirinya setelah bertahun-tahun alami sakit ini harus berjuang keras sekalipun organ tubuhnya harus kehilangan

Dengan mata berkaca-kaca Leksi meneteskan air mata sambil mengutarakan isi hatinya untuk bisa hidup lebih layak bersama istrinya jika pemerintah mau membantu untuk membangun sebuah hunian yang lebih layak dari saat ini untuk bisa dihuni bersama istrinya yang sudah berjalan 4 tahun usia pernikahan mereka.

” Dengan Doa dan harapan bersama sama Istrinya,kiranya meminta Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Propinsi NTT dan Pemerintah Pusat agar bisa membuka mata dan telinga untuk bisa melihat lebih jauh dan mendengar jeritan masyarakat Rote Ndao yang masih jauh dari kata layak dan cukup di Dusun Liuk, Desa Ingguinak.” Ujar Leksi Lau bernada harap

Selain itu Naomi Kotta, Lansia sebatang kara ini hidup sendiri didalam gubuk kecil tanpa adanya penerangan, beratap daun lontar, berdinding pelepa gewang dan kayu serta berlantai tanah harus membanting tulang sekalipun sebatang kara di usia lansia tapi harus mencari nafkah sendiri tanpa adanya uluran tangan pemerintah desa ingguinak dan pemerintah daerah selama 23 Tahun ini.

Perlu diketahui Kecamatan Rote Barat Laut Kabupaten Rote Ndao, adalah gudang dan wilayah yang banyak melahirkan Pemimpin dan pejabat yang memimpin di Kabupaten Rote Ndao sejak lahirnya otonomi Rote Ndao.

Ada Ketua DPRD Rote Ndao, Ada Wakil Ketua DPRD, Anggota DPRD, Sekda Rote Ndao dan hampir sekian jabatan strategis pada lingkup pemerintahan daerah tidak pernah absen dan terlepas dari wilayah Kecamatan Rote Barat Laut.

Termasuk pejabat publik yang berdomisili di desa ingguinak dan sekitarnya namun disayangkan tidak pernah menoleh mata mereka untuk melihat masyarakat yang sementara membutuhkan uluran tangan pemerintah.

Harapan David Alberto Tanine, Yermi Leksi Lau dan Lansia sebatang kara Naomi Kotta kiranya kedepan mendapat perhatian dari pemerintah dengan menempatkan harapan mereka sejajar dengan warga lain tanpa tembang pilih.

Pos terkait