Rote Ndao, PENA-EMAS.COM – Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) kembali hadir di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk kedua kalinya setelah sebelumnya pada 2025 berfokus pada riset sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Memasuki April 2026, IMA kini mengarahkan programnya pada penguatan ekonomi perempuan pesisir, khususnya di Desa Oenggae dan Papela, Kecamatan Rote Timur.
Direktur Eksekutif IMA, Nukila Evanty, mengungkapkan bahwa hasil riset sebelumnya menunjukkan masih minimnya peran perempuan dalam mata rantai perikanan dan budidaya rumput laut di dua desa tersebut.
“Perempuan perlu didorong untuk lebih aktif dalam kewirausahaan rumput laut, memahami rantai pasok (supply chain), hingga strategi pemasaran yang sesuai standar ekspor,” ujarnya.
Selain itu, perempuan juga akan dibekali keterampilan mengolah rumput laut menjadi produk bernilai tambah, baik untuk konsumsi maupun produk kecantikan. Pelatihan juga mencakup manajemen keuangan sederhana agar hasil usaha dapat dikelola secara berkelanjutan.
Nukila menambahkan, selama ini perempuan di wilayah pesisir masih didominasi peran domestik, dengan akses terbatas terhadap pendidikan dan pekerjaan. Bahkan, sebagian masih menghadapi kekerasan berbasis gender, termasuk KDRT. Kondisi geografis Rote yang berbatasan langsung dengan Australia juga menempatkan wilayah ini pada risiko tinggi perdagangan orang dan penyelundupan migran.
Sementara itu, Project Manager IMA, Fauziah Nuraini Siregar, menjelaskan bahwa program ini akan dilaksanakan bersama Forum Komunikasi (FORKOM P2HP) dengan melibatkan penuh komunitas lokal sejak awal hingga akhir program.
“Kami mendapat dukungan dari pemerintah desa Oenggae dan Papela, serta berbagai dinas terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas PMD, Dinas Koperasi, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Dinas Pariwisata, dan Bappeda,” jelasnya.
Program akan diawali dengan assessment dan dialog bersama kepala desa, tokoh adat, dan kelompok perempuan untuk memahami kondisi riil di lapangan. Selanjutnya, pada akhir April hingga Mei 2026 akan digelar pelatihan intensif selama dua hari di masing-masing desa.
Pelatihan tersebut menyasar kelompok perempuan rentan, termasuk perempuan kepala keluarga, penyandang disabilitas, serta perempuan yang hidup sendiri. Materi pelatihan mencakup teknik budidaya rumput laut, pengolahan produk turunan, serta manajemen keuangan berbasis koperasi.
Fauziah menambahkan, pembentukan koperasi perempuan menjadi salah satu langkah strategis untuk memutus mata rantai ketergantungan pada rentenir, sekaligus mendorong perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk untuk pendidikan anak.
IMA bersama FORKOM juga akan memfasilitasi legalitas kelompok serta perizinan produk olahan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan, guna menjamin keberlanjutan program.
Program ini turut mendapat dukungan dari pemerintah daerah serta Pemerintah Selandia Baru melalui skema HEF.
“Perempuan pesisir yang kuat akan menjadi kunci dalam mendorong kesetaraan gender sekaligus pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan,” tutup Fauziah.


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




