Festival Hus Nde.o. Bupati Rote Ndao Paulus Henuk : Legenda Pacuan Kuda HUS Lailete jadi Sentralist Budaya Adat.
PENA-EMAS.COM. Legenda Budaya Adat Pacuan Kuda HUS Lailete jadi Sentralist Budaya dan memberikan pesan kepada generasi muda bahwa orang Rote memiliki salah satu budaya yang sangat legendaris yang perlu di lestarikan.
Budaya yang berbasis Hus atau Budaya adat pacuan Kuda ini akan menjadi setralist Budaya untuk itu kita akan memagari keliling lokasinya dan di tata dengan baik termasuk 9 rumah adat dari 9 suku atau Leo dibangun di lokasi ini kemudian kita narasikan kembali kepada generasi yang ada dan seterusnya sehingga akar budaya yang ada di tempat ini tetap hidup dan Lestari.
Demikian Hal ini disampaikan oleh Bupati Rote Ndao dalam sambutanya saat membuka Festival Hus Adat di Dusun Nde.o Desa Tasilo Kecamatan Loaholu Kab. Rote Ndao Rabu (9/7/2025).
Paulus Henuk mengatakan, Hus Lailete merupakan pacuan adat, peninggalan Leluhur sejak Ratusan tahun lalu secara turun temurun. Kegiatan upacara ritual adat ini dilakukan oleh masyarakat setelah hulu hasil kebun setiap tahun sebagai bentuk ungkapan syukur oleh masyarakat di Rote bagian barat khususnya di Nusak Lailete.
Hus ini dalam pelaksanaannya sejak jaman dahulu memiliki rangkaian yang cukup Panjang tapi karena situasi jaman berubah sehingga ritual yang bersifat magis dan sakral ini kita kurangi
Harapannya adalah kita ingin memberikan pesan kepada generasi mudah bahwa orang Rote memiliki salah satu budaya yang sangat legendaris yang perlu di lestarikan sehingga kedepan mampu untuk menggerakan Pariwisata terutama pariwisata yang berbasis budaya.
Kini di Pemda Rote Ndao sedang merencanakan pembangunannya secara modern untuk kita wariskan kepada generasi penerus yang akan datang. Budaya yang berbasis Hus atau pacuan Kuda ini akan dibangun setralist di sini dengan memagari kelilingnya dan ditata dengan baik kemudian kita narasikan kembali kepada generasi yang ada dan seterusnya sehingga akar budaya yang ada di tempat ini tetap hidup dan Lestari.
Kedepan Budaya ini bisa mendobrak ekonomi Masyarakat dan mulai tahun depan kita Bersama seluruh Forkopimda yang ada kita libatkan dalam kegiatannya untuk menjadi Hus kita Bersama dan bergandeng tangan untuk memajukan di Kabupaten Rote Ndao.
Saya juga berpesan kepada tokoh adat dan tokoh Masyarakat terutama para Meneleo untuk kita segera membebaskan Lokasi ini untuk di pagar dan ditata karena anggarannya sudah dianggarkan oleh Dinas Kebudayaan sehingga segera dikerjakan dan tahun depan sudah lebih baik lagi dari hari ini Ujarnya.
Arkhimes Molle,SH,MA. Perwakilan dari ke- 9 Suku atau Leo dalam sambutannya mengatakan, momentum pacuan kuda ini merupakan Budaya adat peninggalan leluhur sejak tahun 1500 silam namun dalam perjalanan nilai-nilai luhur perlahan-lahan terganggu dan terkikis oleh peradaban modern, tetapi ke- 9 suku ini masih tetap mempertahankan tradisi leluhur ini hingga saat ini.
Untuk itu. Arkhimes Molle meminta perhatian pemerintah dalam pelestariannya sebagai asset dan kekayaan budaya sehingga kedepan mampu berkonstribusi bagi kemajuan daerah. Baik pada sektor Pariwisata maupun ekonomi.
Arkhimes Molle yang juga sebagai Maneleo Koordinator Suku Luna Vando saat di temui Wartawan. Ia menjelaskan, Hus ini merupakan aset budaya yang memiliki keunikan khusus yang tidak ditemukan ditempat lain.
Selain itu, Aset budaya adat ini sejak jaman leluhur sembilan suku atau Leo di Eks Nusak Lailete ( Ello, Luna Vando, Boluk, Tasioe, Todak Mbauleon, Leseleok dan Leoanak) diyakininya sebagai momentum yang sangat sakral
Keunikan HUS adat ini merupakan sejarah peradaban yang memiliki nilai ritual yang sangat sakral dikala masyarakat belum mengenal agama sehingga Hus ini dipercaya sebagai salah satu cara mendekatkan diri dan menyembah kepada Tuhan Maha Kuasa.
HUS bagi masyarakat Nusak Lailete Kabupaten Rote Ndao bukan sekedar atraksi berkuda dan hiburan rakyat tapi merupakan simbol budaya yang sakral dilakukan untuk membangun hubungan dengan Yang Mahakuasa pemberi berkat.
Selain itu, sebagai bentuk syukuran kepada Tuhan, Lehulur dan alam yang telah memberi berkat hasil baik kebun, sawah, lontar dan usaha hasil laut yang di peroleh masyarakat setempat.
Kegiatan Hus selain pacuan (Foti Limbe/Hus) acara lainnya berupa berbagai seni budaya. Baik tarian, Foti, gong, sasando dan kebalai.
Hadir dalam Festifal Hus ( Foti Limbe ) ini Selain Bupati Rote Ndao, Hadir pula Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Rote Ndao Yane Pelokila, Wakil Bupati Aoremoi Dudelusy Dethan, Dandim 1627 dan Isteri, DanLanal Pulau Rote, Perwakilan Polres Rote Ndao, Anggota DPRD Propinsi NTT Simson Polin, Kapala Bank NTT Rote Ndao,Para Asisten dan Pimpinan OPD, Camat Loaholu Jemi O Adu,SH, Camat Rote Barat Daya, Para Kepala Desa, Maneleo dan Tokoh Adat, Tokoh Agama se- Kecamatan Loaholu dan Insan Pers.
Pantauan Media ini. Kedatangan Bupati Rote Ndao dan Forkopimda dijemput dan diarak dengan pasukan kuda 200 ekor sekitar 2 Km menuju Lokasi Hus. Kemudian di Sambut dengan tuturun adat dan penyematan Ti.i Langga oleh Koordinator Suku Luna Vando Arkhimes Molle,SH,MA, selanjutnya diarak dengan tarian gong oleh penari menuju tempat duduk.
Bupati Rote Ndao Paulus Henuk,SH setelah membuka Festival Hus dilanjutkan dengan penyerahan Dedeo ( Bendera Adat ) kepada ke 9 Suku dan 1 kepada Mana Helo Hus kemudian 4 Dedeo kepada perwakilan dari Nusak.
Untuk diketahui bahwa Dedeo adalah penghargaan tertinggi dalam budaya upacara Hus yang diberikan kepada para tokoh terpandang dalam adat Foti Limbe atau Hus berupa Selimut (Kain khas Rote ), Baju Adat dan Ti,I Langga.
Usai Penyerahan Dedeo, Bupati Paulus Henuk menunggang Kuda Bersama para penerima Dedeo dan peserta penunggang lainnya sekitar 500 ekor kuda melakukan parade Foti Hus kemudian menyaksikan acara Silat Kampung ( Libutu ) dan Kebalai Bersama warga dan Masyarakat adat.
(Arkhkmes Molle)


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




